Ada beberapa hal yang mendorong populernya teknologi virtualisasi server, yaitu:
1. Kecepatan prosesor makin hari makin tinggi, dan tidak semua aplikasi bisa menggunakan kemampuan tersebut secara maksimal. Jadi daripada mubasir, prosesornya di-sharing antar beberapa pengguna / aplikasi. Sharing bukan saja terjadi antar beberapa aplikasi dalam satu instansi lagi, tapi sudah antar beberapa user/instansi yang berbeda.
2. Akses internet semakin murah & mobilitas orang semakin tinggi. Sekarang ini user tidak lagi harus bekerja di kantor. Mereka bekerja di tempat client, di cafe, di rumah, atau bahkan di jalan sembari nunggu macet. Jadi tidak penting lagi apakah servernya berada di kantor atau dimanapun, yang penting bisa diakses.
3. Efisiensi. Kita ingat dulu terkenal istilah downsizing, dimana pengguna mainframe mulai beralih ke server2 kecil. Nah sekarang ini server yang kecil2 itupun lebih di-efisienkan lagi dengan melakukan sharing resources, misal tadinya butuh 30 server kecil sekarang dengan virtualisasi cukup 10, tadinya masing2 harus punya harddisk sendiri2 sekarang cukup satu storage server. Tadinya harus beli system management sendiri, itu juga kalo sadar karena biasanya urusan system management itu urusan nomer sekian, nah sekarang bisa pake bareng2.
Kebutuhan user diatas ternyata disambut oleh vendor2 besar, seperti microsoft, redhat, selain juga vmware & citrix yang memang sudah lama berkecimpung dalam hal mesin virtual. Hal ini semakin mempermudah user mengadopsi teknologi ini. Dan vendor2 besar seperti Intel dan Microsoft ternyata juga saling bekerja sama, tentunya ini akan membuat implementasi menjadi semakin mudah.
Bicara masalah kendala virtualisasi di Indonesia, terutama untuk proyek-proyek yang dibiayai anggaran negara, adalah kebiasaan bahwa barangnya harus keliatan dan harus ditaro ditempat milik sendiri. Jadi kalau diperiksa oleh auditor bisa aman katanya

