Terlepas dari polemik apakah braindrain ini fenomena yang positif atau negatif, gue cuma pengen bahas korelasi internet dengan fenomena braidrain ini. Apa bener internet membuat brain drain semakin deras ? Situs lowongan seperti monster, jobsdb, jobstreet bikin kita gampang cari kerja di LN. Chatting, voip, dan webcam menjadi piranti penghubung kangen2an antar keluarga yang terpisah ribuan kilometer. Internet jadi jalan tol hijrahnya pemikir indonesia ke LN ?
Eitss.. ntar dulu, banyak orang justru mendapatkan hal sebaliknya. Beberapa bisa dapet proyek dengan bayaran dollar dengan hanya bekerja di rumahnya di tanah air. Telecommuting bukan hanya menjadi konsep. Hilangnya batasan ruang dan waktu di internet memungkinkan kita kerja dimana saja, kapan saja. Tinggal pasang internet di rumah, kerja deh. Paling engga bisa coba ngerjain proyek-proyek kecil ala getafreelancer atau scriptlance (buat orang IT). Perusahaan multinasional juga bisa bikin 24 hours hotline tanpa harus bikin karyawannya kerja shift 24 jam. Tinggal disebar aja callcenternya di beberapa tempat yang berbeda area waktu. Ada orang di amrik telfon ke helpdesk jam 2 pagi, yang jawab call center di jakarta via VoIP
Jadi internet bisa bikin ‘virtual braindrain’, kerja untuk orang LN tapi secara fisik kita tetap ada disini. Otomatis devisa malah masuk kesini. Blanja blinji juga tetep disini, di pasar becek deket rumah hehe.

